Postingan

Jogja Yang Santai Akan Selalu Dirindukan

Tengah malam aku memutuskan untuk pulang ke Bojonegoro. Diantar Rusdi menunggu bus di bawah Jembatan Layang Janti. Selalu bus Sugeng Rahayu yang aku tunggu, meskipun pada akhirnya bus Miralah yang aku tumpangi hingga Kota Ngawi. Yogyakarta tampak indah di tengah malam, jalanan sepi dengan berhiaskan lampu-lampu yang cukup untuk menggantikan purnama sebagai cahaya di malam hari. Aku tidak sempat melihat jam yang ada di handphone ketika bus Mira tiba di depanku, sejenak aku berpamitan dengan Rusdi sebelum aku masuk ke dalam bus. Seperti biasanya ketika aku pulang kampung di malam hari, bus selalu sepi dari penumpang. Aku mengambil kursi dekat dengan jendela agar bisa menikmati pemandangan jalan di malam hari. “ OTW Bojonegoro; Jogja akan selalu dirindukan.” Aku kirimkan kata-kata itu kepada seorang gadis sebagai kabar yang mungkin tidak ia inginkan.

Masjid Jami’ Nurul Huda Cangaan; Masjid Tertua Di Bojonegoro

Cangaan, sebuah desa yang terletak di pinggiran Bengawan Solo, mungkin masih asing di telinga sebagian orang di Kabupaten Bojonegoro. Desa yang terletak di Kecamatan Kanor ini termasuk desa yang menjadi langganan banjir ketika musim hujan tiba. Bagi warga kecamatan kanor dan sekitarnya, Cangaan selain terkenal sebagai desa langganan banjir juga terkenal karena kondisi jalan yang jelek, becek berlumpur ketika musim hujan tiba, dan berdebu ketika musim kemarau. Namun tampaknya identitas Canga’an sebagai desa langganan banjir dan desa dengan struktur jalan yang jelek telah ditinggalkan seiring dengan laju pembangunan di Bojonegoro. Di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo kini telah dibangun tanggul yang cukup tinggi – kira-kira lima meter – dan cukup untuk menahan arus sungai tidak meluber ke rumah warga. Jalan-jalan desa pun sudah mulai baik hasil dari program pavingisasi Bupati Suyoto. Lalu apa lagi yang terkenal dari desa ini?

Ketika Facebook Menjadi Menyeramkan

Setelah ramai dengan berita tentang bangkitnya komunisme, memasuki Bulan Ramadhan, dunia media sosial, khusunya Facebook kembali ramai, bukan karena iklan jilbab syar’i, tetapi berita sweeping oleh Satpol PP di Serang, Banten, terhadap para pedagang yang nekat membuka warungnya di siang hari. Seperti biasa, ada yang membela Satpol PP dan ada juga yang tidak setuju dengan perilaku Satpol PP tersebut. Dalil-dalil agama kemudian dimunculkan untuk menjustifikasi kebenaran masing-masing kelompok. Kalau perdebatan antara pihak yang pro dan yang kontra dibawa ke ranah akademis mungkin akan lebih menarik daripada digulirkan di Facebook. Karena yang terjadi adalah orang-orang awam dengan mudah bisa mengonsumsi dan membenarkannya, kemudian ikut-ikutan membuat status atau memberi komentar, meskipun sebenarnya mereka tidak memahaminya secara utuh.

Haruskah HMI MPO dan HMI Dipo Islah?

Awalnya hanyalah Majelis Penyelamat Organisasi. Dibentuk oleh beberapa kader untuk menyelamatkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari kooptasi Orde Baru. Jalan diplomasi mereka tempuh, mempertanyakan sikap Pengurus Besar (PB) HMI yang mengubah asas Islam menjadi Pancasila, namun apa daya, aksi mereka tidak ditanggapi positif oleh PB HMI. PB HMI lebih mengakomodir tekanan pemerintah orde baru dari pada sikap beberapa cabang yang menolak asas tunggal Pancasila. Perpecahan pun tak dapat dielakkan, HMI pun menjadi dua. Perpecahan itu terjadi pada tahun 1985. Kongres HMI ke-16 pada tahun 1986 diadakan di dua tempat, yaitu Padang sebagai tempat kongres HMI dengan asas Pancasila dan Yogyakarta sebagai tempat HMI dengan asas Islam. Di dua kongres itulah perpecahan HMI mengkristal. HMI resmi menjadi dua, HMI dengan asas Pancasila yang kemudian terkenal dengan HMI Dipo – merujuk kepada alamat sekretariat PB HMI di Jalan Diponegoro Jakarta, dan HMI dengan asas Islam yang diisi oleh cabang-caban...

Senja di Pantai Sepanjang

Gambar
Kalau sempat ada waktu Ku ajak kau menikmati senja Yang tertawan di langit Yogyakarta Indah memanjang di Pantai Sepanjang Sebelum purnama

MEMBACA DAN KERJA PERADABAN

Buku adalah jendela peradaban. Ia tidak sekedar kumpulan tulisan, tetapi juga rekaman ilmu pengetahuan. Dari buku, kita tahu pemikiran tokoh-tokoh terdahulu yang bisa kita pelajari dan kembangkan, kemudian muncullah teori-teori baru dalam ilmu pengetahuan. Buku adalah kekuatan. Keberadaannya bisa mengancam penguasa yang tiran. Oleh karena itu keberadaannya menjadi terlarang. Seperti buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang dilarang beredar oleh rezim Orde Baru.
KETIKA AKU MERINDUKAN SUGENG RAHAYU (SEBUAH CATATAN PERJALANAN DARI SEMARANG KE WONOSOBO) Rasa lelah belum sempat hilang, walaupun sudah semalaman aku beristirahat di Sekretariat HMI Cabang Semarang. Namun pagi itu juga, 11 April 2016, aku harus melanjutkan perjalanan ke Wonosobo. Kota yang diapit oleh dua gunung, Sindoro dan Sumbing. Aku sering menyebutnya dengan kota masa depan. Alasanku menyebut kota masa depan adalah, kota ini masih asri, sejuk, nyaman, dan jauh dari kemacetan. Aku berangkat bersama tiga temanku, satu orang dari Purworejo dan dua orang dari Jombang. kami berangkat sekitar pukul 09.00 WIB dari Sekretariat HMI Cabang Semarang, yang terletak tidak jauh dari RS. Karyadi. Kami berencana naik bus ke Wonosobo, namun bus tidak bisa langsung kami dapatkan di dekat Sekretariat, kami harus terlebih dahulu naik bus Trans Semarang sampai Banyumanik. Disitulah kami akan menunggu bus yang akan membawa kami ke Wonosobo. Siang itu Semarang cukup cerah, kontras dengan cua...